Sabtu, 13 September 2014

Komite Keperawatan



Menteri Kesehatan RI (dr. Nafsiah Mboi SpA, MPH) telah menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan No 49 Tahun 2013 tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit. Peraturan tersebut menyatakan bahwa setiap rumah sakit harus membentuk komite keperawatan. Komite keperawatan ini bukan merupakan wadah perwakilan dari staf keperawatan, melainkan organisasi non struktural dengan keanggotaan yang terdiri dari tenaga keperawatan (perawat dan bidan).
Komite Keperawatan dibentuk oleh direktur rumah sakit dan bertanggungjawab kepada direktur rumah sakit. Susunan organisasi komite Keperawatan rumah sakit terdiri dari ketua komite keperawatan, sekretaris komite keperawatan dan subkomite. Untuk subkomite terdiri dari subkomite (1) kredensial, (2) mutu profesi dan (3) etika dan disiplin profesi. Keanggotaan komite keperawatan ditetapkan oleh direktur RS dengan mempertimbangkan sikap profesional, kompetensi, pengalaman kerja, reputasi dan perilaku. Sedangkan untuk jumlah personil keanggotaan komite keperawatan disesuaikan dengan jumlah tenaga keperawatan di rumah sakit.
Wewenang Komite Keperawatan sesuai pasal 12 meliputi (1) memberikan rekomendasi rincian kewenangan klinis, (2) memberikan rekomendasi perubahan rincian kewenangan klinis, (3) memberikan rekomendasi penolakan kewenangan klinis tertentu, (4) memberikan rekomendasi surat penugasan klinis, (5) memberikan rekomendasi tindak lanjut audit keperawatan dan kebidanan, (6) memberikan rekomendasi pendidikan keperawatan dan pendidikan kebidanan berkelanjutan, dan (7) memberikan rekomendasi pendampingan dan memberikan rekomendasi pemberian tindakan disipllin.
Pendanaan
Pelaksanaan kegiatan komite keperawatan didanai dengan anggaran rumah sakit dan kepengurusan komite keperawatan berhak memperoleh insentif sesuai dengan aturan dan kebijakan rumah sakit.
Pembinaan dan Pengawasan
Sebagai bentuk peningkatan kinerja Komite Keperawatan dalam menjamin mutu pelayanan keperawatan dan kebidanan serta keselamatan pasien di rumah sakit, dilakukan pembinaan dan pengawasan terhadap komite keperawatan. Bentuk pembinaan dan pengawasan berupa (1) advokasi, sosialisasi dan bimbingan teknis; (2) pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, (3) monitoring dan evaluasi.
Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan komite keperawatan dilakukan oleh Menteri, Badan Pengawas Rumah sakit provinsi, dewan pengawas rumah sakit, kepala dinas kesehatan provinsi, kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, dan perhimpunan/asosiasi perumahsakitan dengan melibatkan organisasi profesi yang terkait sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Minggu, 20 Juli 2014

Kepemimpinan dalam keperawatan

Untuk memastikan bahwa staf keperawatan melaksanakan tugasnya dengan baik, manajer keperawatan harus mampu memimpin, meminta, meyakinkan, mendesak dan membujuk stafnya untuk melakukan apa yang seharusnya dikerjakan, tidak bergantung kepada kapan meraka mau melakukannya tetapi pada kapan klien dan rekan kerja memerlukan bantuan mereka, tidak berdasarkan atas kesukaan mereka tetapi pada apa yang seharusnya dilakukan demi tercapainya tujuan asuhan keperawatan.
Kepemimpinan dalam keperawatan merupakan penerapan pengaruh dan bimbingan yang ditujukan kepada semua staf keperawatan untuk menciptakan kepercayaan dan ketaatan sehingga timbul kesediaan melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.
A. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Beberapa ahli mengungkapkan pengertian kepemimpinan sebagai berikut:
1) Kepemimpinan adalah kemampuan membuat seseorang mengerjakan apa yang tidak ingin mereka lakukan dan menyukainya (Truman, dikutip dari Gillies, 1996).
2) Kepemimpinan merupakan penggunaan keterampilan mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya (Sullivan dan Decleur, 1989).
3) Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan untuk mempengaruhi anggota kelompok bergerak menuju pencapaian tujuan yang ditentukan (Baily, Lancoster dan Lancoster, 1989)
4) Kepemimpinan adalah sebuah hubungan dimana satu pihak memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mempengaruhi perilaku pihak lain yang didasarkan pada perbedaan kekuasaan antara pihak-pihak tersebut (Gillies, 1996).
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Kepemimpinan merupakan kemampuan mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi perilaku orang lain.
2. Kepemimpinan diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Kepemimpinan dapat berjalan bila ada perbedaan kekuasaan atau wewenang antara pemimpin dan anggota organisasi yang dipimpinnya.
B. TEORI KEPEMIMPINAN
1. Teori Bakat
Teori ini menyatakan bahwa seseorang dilahirkan dengan bakat pimpinan yang tidak dapat dipelajari. Kemampuan seorang pemimpin ditentukan oleh bakat, intelegensi, stabilitas emosi dan kebugaran fisik.
2. Teori Perilaku
Douglas Mc Gregor mengemukakan bahwa para pimpinan organisasi birokratis menganut asumsi tentang sifat alami manusia yang oleh Mc Gregor disebut Teori X. Asumsi tersebut adalah:
1) Rata-rata individu memiliki ketidaksukaan pada pekerjaan dan akan menghindarinya sewaktu ada kesempatan.
2) Rata-rata individu memilih diarahkan dengan harapan menghidari tanggung jawab dan lebih tertarik kepada insentif materi daripada prestasi diri.
3) Karena manusia tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dikendalikan, diancam dan dipaksa untuk mengerahkan usaha yang cukup untuk mencapai tujuan organisai.
Mc Gregor mempertanyakan asumsi tersebut dengan mengajukan asumsi yang berbeda (Teori Y) agar dapat mendorong pekerja untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara utuh. Asumsi teori Y adalah:
1) Pengeluaran usaha fisik dan mental dalam bekerja harus seimbang dengan istirahat atau hiburan.
2) Manusia akan membiasakan kontrol diri dan mengarahkan diri untuk mencapai tujuan-tujuan yang dipatuhinya secara pribadi.
3) Rata-rata individu belajar di bawah kondisi yang sesuai untuk mencari dan menerima tanggung jawab.
4) Kapasitas untuk menerapkan imajinasi dan kreatifitas terhadap pemecahan masalah-masalah organisasi secara lebih luas terbagi di antara para pekerja.
C. GAYA KEPEMIMPINAN
Gaya kepemimpinan dapat diartikan sebagai penampilan atau karakteristik khusus dari suatu bentuk kepemimpinan (Follet, 1940; dikutip dari Gillies, 1996). Ada 4 (empat) gaya kepemimpinan yang telah dikenal yaitu: otokratis, demokratis, partisipatif dan laissez faire (Gillies, 1996).
1. Gaya Kepemimpinan Otokratis:
Gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi secara otoriter, melakukan sendiri semua perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan dan memotivasi bawahan dengan cara paksaan, sanjungan, kesalahan dan penghargaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis:
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya seorang pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota organisasi. Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama.
3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif:
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan cara mengajukan masalah dan mengusulkan tindakan pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada.
4. Gaya Kepemimpinan Laisses Faire:
Gaya kepemimpinan laisses faire dapat diartikan sebagai gaya “membiarkan” bawahan melakukan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Dalam hal ini, pemimpin melepaskan tanggung jawabnya, meninggalkan bawahan tanpa arah, supervisi atau koordinasi sehingga terpaksa mereka merencanakan, melakukan dan menilai pekerjaan yang menurut mereka tepat.
Selanjutnya dapat dikemukan bahwa keempat gaya kepemimpinan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Setiap gaya kepemimpinan bisa efektif dalam situasi tertentu tetapi tidak efektif dalam situasi lainya (Tannenbaum dan Schmit, 1973; dikutif dari Gillies, 1996). Faktor yang menetukan efektifitas gaya kepemimpinan secara situasional meliputi: kesulitan atau kompleksitas tugas yang diberikan, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas, ukuran unit organisasi, pola komunikasi dalam organisasi, latar belakang pendidikan dan pengalaman pegawai, kebutuhan pegawai dan kepribadian pemimpin (Gillies, 1996).
D. PEMIMPIN YANG EFEKTIF
Tidak ada gaya atau karakteristik kepemimpinan yang dpat dikatakan efektif tanpa mempetimbangkan situasi kultural, situasi kerja dan kebutuhan pekerja yang terus-menerus berubah dari waktu ke waktu. Karakteristik kepemimpinan yang efektif dikemukan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
1. Fiedler (1977), dikutif dari Gillies (1996) menyatakan bahwa kepemimpinan dapat berjalan efektif bila:
1) Kepemimpinan berganti dari satu orang ke orang lain dan berganti dari satu gaya ke gaya lainnya seiring dengan terjadinya perubahan situasi kerja.
2) Pemimpin sebaiknya berasal dari anggota kelompok kerja, mengenal situasi kerja dan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibanding anggota kelompok kerja lainnya.
2. Bennis menyatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang memenuhi karakteristik sebagai berikut:
1) Mempunyai pengetahuan yang luas dan kompleks tentang sistem manusia.
2) Menerapkan pengetahuan tentang pengembangan dan pembinaan bawahan.
3) Mempunyai kempuan menjalin hubungan antar manusia.
4) Mempunyai sekelompok nilai dan kemampuan yang memungkinkan untuk mengenal orang lain dengan baik.
3. Swanburg (1990) menyatakan bahwa karakteristik pemimpin yang efektif adalah sebagai berikut:
1) Intelegensi (pengetahuan, pendapat, keputusan, berbicara)
2) Kepribadian (mudah adaptasi, waspada, kreatif, kerjasama, integritas pribadi yang baik, keseimbangan emosi dan tidak ketergantungan kepada orang lain)
3) Kemapuan (bekerjasama, hubungan antar manusia dan partisipasi sosial).
E. HUBUNGAN KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN
Kepemimpinan dan kekuasaan adalah dua hal yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Kepemimpinan dapat dijalankan hanya bila pada diri pemimpin terdapat kekuasaan karena jabatan yang diembannya dan penerimaan atau pengakuan bawahan atas perannya sebagai pemimpin (Gillies, 1996). Kekuasaan seorang pemimpin dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Reward power atau kekuasaan memberikan penghargaan terhadap bawahan baik berupa insentif material, memenuhi permintaan rotasi tugas atau kesempatan untuk mengikuti program pengembangan staf.
2. Coecieve power atau kekuasaan untuk menerapkan perintah atau hukuman secara paksa kepada bawahan berupa penurunan atau penundaan kenaikan pangkat, skorsing maupun pemecatan.
3. Referent power merupakan kemampuanan untuk menjadi panutan bawahan sehingga dapat menimbulkan kebanggaan dan upaya bawahan untuk mengidentifikasikan diri sesuai dengan pemimpinnya.
4. Expert power merupakan kemampuan untuk meyakinkan, membimbing dan mengarahkan bawahan berdasarkan keahlian yang dimiliki seorang pemimpin.
Ruang lingkup atau batasan kekuasaan yang secara tegas ditentukan dalam jabatan tertentu dapat disebut wewenang.
F. PENERAPAN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN
Menurut Kron (1981), ruang lingkup kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan meliputi:
1. Perencanaan dan pengorganisasian
2. Membuat penugasan dan memberi pengarahan
3. Pemberian bimbingan
4. Mendorong kerjasama dan partisipatif
5. Kegiatan koordinasi
6. Evaluasi hasil kerja.
--oo00oo--


Selasa, 29 Oktober 2013

DIABETES MELLITUS


DIABETES MELITUS

Diabetes Melitus ( DM ) adalah keadaan hiperglikemia ( kadar guladarah tinggi ) yang kronik disertai kelainan metabolik, yang diakibatkan gangguan hormonal. Akibat gangguan hormonal tersebut dapat terjadi komplikasi pada mata seperti katarak, ginjal, ( nefropati ), saraf dan pembuluh darah.

Ada dua tipe DM :
1.     DM yang tergantung dengan insulin : disebabkan kerusakan sel beta langerhans di kelenjar pankreas akibat proses autoimun.
o    Biasanya terdiagnosis dibawah umur 35 tahun
o    Tidak gemuk
o    Gejala timbul mendadak ( akut )
o    Prevalansi 10% dari seluruh penderita DM
2.     DM yang tidak tergantung pada insulin : akibat kegagalan relatif sel beta langerhans dikelenjar pankreas, misalnya karena obesitas, pola makan yang tidak benar.
o    Biasanya terdiagnosis diatas umur 40 tahun
o    Biasanya gemuk
o    Gejalanya timbul perlahan – lahan ( kronik )
3.     DM tipe lain, biasanya diakibatkan oleh penyakit tertentu misalnya : sirosis hati, penyakit kelenjar pankreas, infeksi, obat-obatan, dan lain-lain.

KRITERIA KENCING MANIS ( Persatuan Endokrinologi Indonesia ) PERKENI
  • Kadar gula darah sewaktu = 200 mg/dl
--------------- ATAU ---------------
  • Kadar gula darah puasa = 126 mg/dl
  • Kadar gula darah puasa = 110 mg/dl
--------------- ATAU ---------------
  • Kadar gula darah 2 jam sesudah tes toleransi glukosa oral ( TTGO ) = 200 mg/dl

Tes toleransi glukosa oral :
  • Periksa gula darah puasa
  • Beri minum glukosa 75 gram + air putih 200cc
  • Periksa gula darah 1 jam setelah minum cairan glukosa
  • Periksa gula darah 1 jam setelah minum cairan glukosa
  • Periksa gula darah 2 jam setelah minum cairan glukosa

GEJALA DAN TANDA AWAL
  • Penurunan BB
  • Rasa Lemah
  • Banyak minum
  • Banyak makan
  • Banyak kencing

KELUHAN LAIN
  • Kesemutan
  • Gangguan penglihatan
  • Gatal/bisul
  • Gangguan ereksi
  • Keputihan

PERENCANAAN MAKAN
  • Capai dan pertahankan BB yang normal
  • Pilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks dan kaya serat, seperti : padi-padian , umbi-umbian
  • Hindari makanan yang mengandung karbohidrat sederhana seperti :gula, madu, sirup, selai
  • Gula, maksimal 3 sdm/hari. Sebaiknya gunakan gula alternatif yang tidak mengandung kalori seperti : sakarin, aspartam
  • Serat, akan memperlambat penyerapan glukosa dan menurunkan kadar lemak darah : buah, sayuran, padi-padian, sereal
  • Batasi konsumsi lemak, minyak ataupun santan maksimal 25% dari kebutuhan energi : 2 bagian dari sumber lemak nabati dan 1 bagian dari sumber lemak hewani
  • Asupan garam : 1 sdt/hari ( 6 g/hari ). Hati-hati dengan makanan jadi yang mengandung natrium : vetsin, soda.

LATIHAN JASMANI
  • 3-5 x/minggu, selama 30-60 menit
  • Intensitas : ringan dan sedang
  • Target : 60-70% dari Maximum Heart Rate ( MHR )
  • Perhitungan MHR : 220 – umur, misalnya umur 40 tahun jadi MHR 180x/menit
  • Tipe olahraga yang dianjurkan : Jalan, bersepeda, jogging, berenang
  • Disesuaikan dengan umur dan kemampuan jasmani
  • Sifat olahraga : Continous, Rhytmic, Interval, Progressive, Endurance

Kiat memulai olah raga
Langkah 1 ; memikirkan olah raga yang akan dilakukan, membuat daftar olah raga yang menarik misalnya senam, jalan kaki,berenang.
Langkah 2 ; melihat kapan punya kesempatan untuk melakukan olahraga, pertimbangkan jenis olah raga yang masih sempat dilakukan
Langkah 3 ; membuat jadwal kegiatan olahraga, dimana akan melakukan (dirumah atau diluar rumah), dan bersama dengan siapa ( anak, istri, teman )

OBAT
1.     Obat hipoglikemik oral ;
o    Meningkatkan sekresia insulin dipankreas ; sulfonilurea, nateglinide
o    Meningkatkan pengambilan gula dijaringan lemak dan otot ; metformin, glitazone
o    Meningkatkan penyerapan gula diusus ; alpha-glucoside inhibitor
o    Menurunkan produksi gula dihati ; metformin, glitazone
2.     Obat hipoglikemik suntikan ; insulin

PENCEGAHAN KOMPLIKASI
  • Tekanan darah diturunkan secara agresif < 130/80 mmHg
  • Kadar trigliserida < 150 mg/dl
  • Kadar kolestreol LDL ( Kolesterol buruk ) < 100 mg/dl
  • Kadar kolesterol HDL ( Kolesterol baik ) > 40 mg/dl

PERAWATAN KAKI
1.     Periksa kaki setiap hari, gunakan cermin
2.     Bersihkan kaki waktu mandi, dengan air bersih dan sabun
3.     Gosok kaki dengan sikat lunak dan keringkan dengan handuk
4.     Berikan pelembab didaerah kaki yang kering, jangan disela-sela jari
5.     Gunting kuku mengikuti bentuk normal jari kaki, jangan terlalu dekat dengan kulit, kikir agar tidak tajam Bila kuku keras dan sulit dipotong, rendam dengan air hangat selama 5 menit Memakai alas kaki, juga didalam rumah
6.     Gunakan sepatu atau sandal sesuai dengan ukuran dan enak dipakai ;
o    panjang ½ inchi lebih panjang dari jari kaki terpanjang, saat berdiri
o    ujung tidak runcing
o    tinggi tumit kurang dari 2 inchi
o    bagian dalam tidak kasar dan licin, tebal 10-12 mm
o    ruang dalam sepatu longgar

YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN
1.     Merendam kaki
2.     Menggunakan botol panas atau peralatan listrik untuk memanaskan kaki
3.     Menggunakan pisau untuk menghilangkan kapalan
4.     Merokok
5.     Memakai sepatu atau kaos kaki sempit
6.     Membiarkan luka kecil dikaki

SENAM KAKI DIABETIK
Fungsi :
1.     Memperbaiki sirkulasi darah
2.     Memperkuat otot-otot kecil
3.     Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki
4.     Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha ( gastrocnemius, hamstring, quadriceps )
5.     Mengatasi keterbatasan gerak sendi
Cara :
1.     Dilakukan dalam posisi berdiri, duduk dan tidur
2.     Menggerakkan kaki dan sendi kaki
3.     Berdiri dengan kedua tumit diangkat
4.     Mengangkat dan menurunkan kaki
5.     Gerakan menekuk, meluruskan, mengangkat, memutar keluar atau ke dalam dan mencengkram pada jari-jari kaki

PENYULUHAN DM
Penyuluhan merupakan salah satu pilar penanganan penyakit diabetes melitus. Penyuluhan ditujukan tidak hanya pada penderita, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Penyuluhan yang menyuluruh mengenai penyakit diabetes melitus penting mengingat diabetes merupakan penyakit seumur hidup dimana pasien sendiri harus ikut berperan dalam penanganan penyakitnya.
Penanganan diabetes melitus sebenarnya merupakan suatu proses yang berlangsung selama 24 jam dan seringkali berhubungan dengan gaya hidup, sehingga makin baik pengetahuan penderita mengenai diabetes melitus, makin mengerti perlunya mengubah perilaku dan mengapa hal itu harus dilakukan. Selain itu, pasien diabetes melitus sebaiknya harus dapat menjadi dokter bagi dirinya sendiri, diantaranya dengan mengandalikan obesitas, mengatur diet yang baik, dan meningkatkan aktivitas fisik.