ASKEP FRAKTUR
A. Pengertian
Fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya
(Bronner and Suddar th, 2001. Fraktur adalah putusnya kontinuitas sebuah
tulang yang ditandai oleh rasa nyeri, pembengkakan, deformitas,
gangguan fungsi, pemendekan dan krepitasi (Christine Hichliff,
1999).Femur adalah tulang paha, tulang yang paling panjang dan paling
kuat dalam tubuh (Sue Hinchliff, 1999)..Open Reduction Internal Fixation
(Orif) adalah suatu cara berupa reposisi secara operatif di ikuti
fiksasi patah tulang dengan pemasangan fiksasi internal (R. Sjamsu
Hidajat, 1997).
Berdasarkan
beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa fraktur radius
sinistra adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang disebabkan
oleh trauma/tenaga fisik dimana fraktur dapat terjadi pada tulang
panjang sebelah kiri yang mana saat ini telah dilakukan reposisi
operatif dengan pemasangan fiksasi interna.
B. Patofisiologi
Fraktur
radius biasanya disebabkan karena cedera/trauma/ruda paksa dimana
penyebab utamanya adalah trauma langsung yang mengenai tulang seperti
kecelakaan mobil, olah raga, jatuh/latihan berat. Selain itu fraktur
juga bisa akiabt stress fatique (kecelakaan akibat tekanan berulang) dan
proses penyakit patologis seperti penderita tumor (biasanya kanker)
dimana telah tumbuh dalam tulang dan menyebabkan tulang menjadi rapuh,
osteoporosis dan infeksi yang dapat terjadi pada beberapa tempat.
Perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat patah dan kedalam jaringan lunak
disekitar tulang tersebut.Bila terjadi hematoma maka pembuluh darah
vena akan mengalami pelebaran sehingga terjadi penumpukan cairan dan
kehilangan leukosit yang berakibat terjadinya perpindahan, menimbulkan
inflamasi atau peradangan yang menyebabkan bengkak dan akhirnya terjadi
nyeri. Selain itu karena kerusakan pembuluh darah kecil/besar pada waktu
terjadi fraktur menyebabkan tekanan darah menjadi turun, begitu pula dengan
suplay darah ke otak sehingga kesadaran pun menurun yang berakibat syok
hipovelemi. Bila mengenai jaringan lunak maka akan terjadi luka dan
kuman akan mudah untuk masuk sehingga mudah terinfeksi dan lama kelamaan
akan berakibat delayed union dan mal union sedangkan yang tidak
terinfeksi mengakibatkan non union.
Apabila
fraktur mengenai peristeum/jaringan tulang dan lkorteks maka akan
mengakibatkan deformitas, krepitasi dan pemendekan ekstrimintas.
Berdasarkan proses diatas tanda dan gejalanya yaitu nyeri/tenderness,
deformitas/perubahan bentuk, bengkak, peningkatan suhu tubuh/demam,
krepitasi, kehilangan fungsi dan apabila hal ini tidak teratasi, maka
akan menimbulkan komplikasi yaitu komplikasi umum misal : syok, sindrom
remuk dan emboli lemak. Komplikasi dini misal : cedera saraf, cedera
arteri, cedera organ vital, cedera kulit dan jaringan lunak sedangkan
komplikasi lanjut misal : delayed, mal union, non union, kontraktor
sendi dan miosi ossifikasi.
C. Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan medis menurut Chaeruddin Rosjad, 1998. Sebelum
menggambil keputusan untuk melakukan penatalaksanaan definitive. Prinsip
penatalaksanaan fraktur ada 4 R yaitu :
a. Recognition : diagnosa dan penilaian fraktur
Prinsip
pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anannesis,
pemeriksaan kelinis dan radiologi. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan : lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan tehnik yang
sesuai untuk pengobatan, komplikasi yang mungkin terjadi selama
pengobatan.
b. Reduction
: tujuannya untuk mengembalikan panjang & kesegarisan tulang. Dapat
dicapai yang manipulasi tertutup/reduksi terbuka progresi. Reduksi
tertutup terdiri dari penggunaan traksimoval untuk menarik fraktur
kemudian memanupulasi untuk mengembalikan kesegarisan normal/dengan
traksi mekanis.Reduksi terbuka diindikasikan jika reduksi tertutup
gagal/tidak memuaskan. Reduksi terbuka merupakan alat frusasi internal
yang digunakan itu mempertahankan dalam posisinya sampai penyembuhan
tulang yang solid seperti pen, kawat, skrup dan plat. Reduction
internafixation (orif) yaitu dengan pembedahan terbuka kan
mengimobilisasi fraktur yang berfungsi pembedahan untuk memasukkan
skrup/pen kedalam fraktur yang berfungsi untuk menfiksasi bagian-bagian
tulang yang fraktur secara bersamaan.
c. Retention,
imobilisasi fraktur tujuannya mencegah pengeseran fregmen dan mencegah
pergerakan yang dapat mengancam union. Untuk mempertahankan reduksi
(ektrimitas yang mengalami fraktur) adalah dengan traksi.Traksi
merupakan salah satu pengobatan dengan cara menarik/tarikan pada bagian
tulang-tulang sebagai kekuatan dngan kontrol dan tahanan beban keduanya
untuk menyokong tulang dengan tujuan mencegah reposisi deformitas,
mengurangi fraktur dan dislokasi, mempertahankan ligamen
tubuh/mengurangi spasme otot, mengurangi nyeri, mempertahankan anatomi
tubuh dan mengimobilisasi area spesifik tubuh. Ada 2 pemasangan traksi
yaitu : skin traksi dan skeletal traksi.
d. Rehabilitation, mengembalikan aktiftas fungsional seoptimal mungkin
Tahap penyembuhan fraktur menurut (Chairudin Resjad 1998)
a. Stadium Haematum
Pada
stadium ini karena pembuluh darah pecah, maka terjadi pendarahan pada
daerah fraktur. Haematum terbentuk mengelilingi daerah tulang yang
mengalami fraktur kemudian setelah 24 jam aliran darah pada daerah
fraktur berkurang sehingga terjadi penggabungan haematoma dengan
fibroblast dan membentuk fibrin. Setelah itu fibrin melindungi &
menutup daerah yang rusak dan aktifitas untuk pertumbuhan kapiler dan
fibroblas, karena terjadi pengurangan suplay darah ke tulang, maka akan
terjadi juga nekrosis pada daerah sekitar trauma.
b. Stadium Proliferasi
Dalam
48-72 jam setelah terjadi fraktur, bekuan darah diganti dengan jaringan
granulasi, sel-sel jaringan baru mulai terbentuk pada daerah fraktur.
Pada saat yang bersamaan hematum/sel darah merah dan jaringan yang rusak
dihancurkan oleh fagosit
c. Stadium Pembentukan Callus
Setelah
6-10 hari injuri bersamaan dengan terbentuknya jaringan granulasi juga
terjadi pembentukan kallus sederhana/prokallus yang berisi lemak dan
kemudian mengelilingi fraktur. Setelah itu terbentuk leartiloga dan
matriks tulang yang baru dan kemudian akan menyebar & menembus
jaringan callus. Jaringan callus akan semakin banyak terbentuk sampai
pada diamater tulang yang normal, kallus akan mencapai ukuran maksimal
setelah 14-21 hari setelah terjadinya injuri.
d. Stadium Konsolidasi
Dengan adanya kandungan Ca2 Po4,
kallus menjadi kuat kemudian terjadi pengapuran pada kallus dan pada
periusteum serta karteks tulang selama 3-10 minggu kallus berubah
menjadi tulang, kemudian formasi dari tulang tersebut mengeras, sehingga
terjadinya proses penyembuhan fraktur secara sempurna. Untuk sementara,
callus dapat menahan bagian tulang tetapi tak cukup kuat untuk menahan
beban yang berat.
e. Stadium Remodeling
Bilamana
union telah lengkap maka tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kenolis medularis.
Pada stadium remodeling ini, perlahan-lahan terjadi reabsorpsi secara
osteoklostik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan
kallus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kollus intermediat
berubah menjadi tulang kompok.
2. Penatalaksanaan Keperawatan Menurut Marilyn E. Dongoes, 2000
a. Mencegah Cedera tulang (jaringan lanjut)
b. Menghilangkan Nyeri
c. Mencegah Komplikasi
d. Memberikan Informasi Tentang Kondisi (Prognosis dan Kebutuhan Pengobatan)
3. Diet menurut Brunner And Suddarth 2001
Diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin D dan mineral serta tinggi kalsium
D. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan fraktur radius sinistra menurut Marilyn E. Doengoes 2000 di peroleh data sebagai berikut :
1. Aktifitas (istirahat)
Tanda
: Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yeng terkena (mungkin
secara fraktur itu sendiri/terjadi secara sekunder dari pembengkakan
jaringan nyeri)
2. Sirkulasi
Tanda
: Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap
nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah), takikerdia (respon
stress, hipovolemia), penurunan/ tak ada nadi pada bagian distal yang
cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena
pembengkakan jaringan/masa hepotoma pada sisi cedera
3. Neurosensori
Gejala : Hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebos/kesemutan (ponestesis)
Tanda
: Deformitas lokal : ambulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi
(bunyi berdesir) Spasme otot, terlihat kelemahan/ hilang fungsi Agitasi
(mungkin berhubungan dengan nyeri /ansietas/trauma)
4. Nyeri/Kenyamanan
Gejala
: Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area jaringan /kesemutan pada tulang = dapat berkurang pada imobilisasi,
tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf, spasme / kram otot (setelah
imobilisasi)
5. Keamanan
Tanda
: Laserasi kulit, opulasi jaringan, perubahan warna, perdarahan,
pembengkakan local (dapat meningkatkan secara bertahap /tiba-tiba)
6. Penyuluhan
Gejala : Lingkungan cedera
7. Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan rontgen, menentukan lokasi/luasnya fraktur/ trauma
b. Scan
tulang, tomogram, scan CT/MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram : di lakukan bila kerusakan vaskuler di curigai
d. Hitung darah lengkap : HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi)/menurunkan (perdarahan multiple)
e. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal
f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfuse multiple / cedera hati.
E. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan analisa data menurut Marilyn E. Doengoes 2000 ditentukan diagnosa keperawatan sebagai berikut :
1. Risiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur)
2. Nyeri
(akut) b.d spasme otot/gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada
jaringan lunak, alat traksi/mobilisasi, strees, ansietas.
3. Risiko
tinggi terhadap disfungsi neorovaskuler perifer b.d penurunan/interupsi
aliran darah. Cedera vaskuler langsung, edema berlebihan/pembentukan
trambus, hipovolemia
4. Risiko
tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas b.d pertukaran aliran,
darah/emboli lemak, perubahan membran alveoli/kapiler intenstisial,
edema paru , kongesti.
5. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskuler : nyeri/ketidaknyamanan : terapi restriktif (mobilisasi tungkai)
6. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/ jaringan badan cedera tusuk, fraktur
terbuka; bedah perbaikan, pemasangan traksi pen/kawat, sekrup,
perubahan sensasi, sirkulasi, akumulasi ekskresi/ sekret, immobilisasi
fisik
7. Risiko
tinggi terhadap infeksi badan tak adekuatnya pertahanan primer
kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan, prosedur
invasif, fraksi tulang
8. Kurang
pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan
kebutuhan pengobatan badang kurang terpajan, salah interprestasi
informasi/tidak mengenal sumber informasi.
F. Perencanaan
Setelah
diagnosa keperawatan ditemukan, dilanjutkan dengan menyusun perencanaan
untuk masing – masing diagnosa yang meliputi proiritas keperawatan,
penetapan tujuan dan kriteria evaluasi sebagai berikut :
1. Risiko tinggi terhadap trauma badan kehilangan integritas tulang (fraktur)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan trauma tidak terjadi. Kriteria Evaluasi :
a. Mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur
b. Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur
c. Menunjukkan pembentukan kallus/mulai penyatuan fraktur dengan tepat
Intervensi :
a) Pertahankan tirah baring/ekstrimitas sesuai indikasi berikan sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila bergerak
b) Letakkan
papan di bawah tempat tidur, pertahankan posisi netral pada bagian yang
sakit dengan bantal pasir, gulungan trochanter, papan kaki.
c) Kaji integritas alat fiksasi eksternal
d) Kaji ulang foto/evaluasi
2. Nyeri
(akut) badan spasme otot gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada
jaringan lunak, alat traksi/mobilisasi, strees, ansietas
Tujuan : Setelah di lakukan hindarkan keperawatan diharapkan nyeri berkurang/hilang
Kriteria Evaluasi :
a. Menyatakan nyeri hilang
b. Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktifitas/tidur. Istirahat dengan tepat
c. Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual
Intervensi :
a) Kaji tingkat nyeri, kedalaman, lokasi nyeri, karakteristik serta intensitas
b) Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pemberat, traksi
c) Tinggikan dan dukung ekstrimitas yang fraktur
d) Berikan alternatif tindakan kenyamanan misal : pijatan, perubahan posisi
e) Ajarkan menggunakan tehnik managemen stress misal : latihan nafas dalam
f) Kolaborasi, berikan obat analgetik sesuai program
3. Risiko
tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer badan
penurunan/interupsi aliran darah, cedera vaskuler langsung, edema
berlebihan, pembentukan trombus, hipovolemia.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan disfungsi neurovaskuler perifer tidak terjadi
Kriteria Evaluasi :
a. Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit hangat/kering, sensasi biasa, tanda-tanda vital stabil
b. Haluan urine adekuat untuk situasi individu
Intervensi :
a) Evaluasi
adanya /kualitas nadi perifer nadi perifer distal terhadap cedera
melalui palpasi, bandingkan dengan ekstremitas yang satu.
b) Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada fraktur
c) Pertahankan peninggian ektrimitas yang cedera kecuali di indikasikan dengan keyakinan adanya sindrom kompartemen
d) Anjurkan klien untuk latihan rom secara rutin, ambulasi segera mungkin
e) Beri obat sesuai indikasi
4. Risiko
tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas badan perubahan aliran
darah/emboli lemak, perubahan membran alveolar/kapiler, interstisial,
edema paru, kongesti.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan pertukaran gas tidak terjadi
Kriteria Evaluasi :
Mempertahankan
fungsi pernafasan adekuat, dibuktikan oleh tak adanya dispnea/sianosis
frekuensi pernafasan dan GDA dalam batas normal.
Intervensi :
a. Observasi frekuensi pernafasan dan upayanya
b. Instruksi dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk, reposisi dengan sering
c. Berikan tambahan O2 bila diindikasikan
d. Berikan obat sesuai indikasi
5. Kerusakan mobilitas fisik badan kerusakan rangka neuromuskuler : nyeri/ketidaknyaman = terapi restriktif (mobilisasi tungkai)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan mobilitas adekuat
Kriteria Evaluasi :
a. Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
b. Mempertahankan posisi fungsional
c. Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
d. Menunjukkan tehnik yang memampukan melakukan aktivitas
Intervensi :
a) Kaji derajat mobilisasi yang dihasilkan oleh cidera atau pengobatan dan perhatikan persepsi klien terhadap mobilisasi
b) Instruksikan dan bantu dalam rentang gerak aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit
c) Bantu dan dorong perawatan diri serta bantu mobilitas dengan kursi roda dan tongkat
d) Observasi TTV
e) Konsul dengan ahli terapi atau okupasi dan spesifikasi rehabilitasi.
6. Risiko
tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan
cedera tusuk; fraktur terbuka; bedah perbaikan pemasangan traksipen;
kawat, sekrup, perubahan sensasi, sirkulasi, akumulasi ekskresi/sekret
imobilitas fisik.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan intergritas kulit tidak terjadi.
Kriteria Evaluasi :
a. Menyatakan ketidaknyamanan hilang
b. Menunjukkan perilaku/tehnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi
c. Mencapai kesembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi
Intervensi :
a) Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna
b) Massage kulit dan penonjola hilang, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan
c) Ubah posisi sesering mungkin
d) Bersihkan kelebihan plesteran dari kulit
e) Massage kulit sekitar balutan luka dengan alkohol
f) Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan diatas tonjolan tulang
7. Risiko
tinggi terhadap infeksi badan tak adekuatnya pertahanan primer,
kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan, prosedur invasif traksi tulang.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritemu dan demam
Intervensi :
a. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontunuitas
b. Observasi tanda infeksi (rubar, dolor, kalon, tumor, fungsiolesa)
c. Lakukan perawatan luka sesuai program
d. Observasi hasil laboratorium dan tanda vital
e. Berikan obat antibiotis sesuai program
8. Kurang
pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan
kebutuhan pengobatan badan kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi
informasi/tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan mengetahui tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
Kriteria Evaluasi :
a. Menyatakan pemahaman kondisi prognosis dan pengobatan
b. Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan
Intervensi :
a) Kaji ulang prognosis dan harapan yang akan datang
b) Beri penguat metode mobilitas dan ambulasi sesuai program dengan fisioterapi bila di indikasikan
c) Anjurkan penggunaan buck spalk
d) Buat daftar perkembangan aktifitas sejauhmana klian dapat melakukan kegiatan secara mandiri dan yang memerlukan bantuan
G. Implementasi menurut (Patrisia A. Potter,2005)
Implementasi
adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan
keperawatan dilakukan dan diselesaikan. Langkah-langkah yang perlu
diselesaikan keperawatan yaitu :
1. Mengkaji ulang klien
Fase
pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme
bagi perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan
masih sesuai.
2. Menelaah dan memodifikasi rencana asuhan keperawatan yang ada
Perawat
yang cerdik sensitif terhadap perubahan dalam status klien dan selalu
memasukkan perubahan dalam status klien dan selalu memasukkan perubahan
ini kedalam rencana asuhan keperawatan. Status kesehatan klien berubah
secara kontinu. Oleh karenanya rencana asuhan harus fleksibel untuk
dapat memasukkan perubahan yang penting. Rencana asuhan yang kadaluarsa
atau tidak tepat mengganggu kualitas rencana asuhan, sementara telaahan
dan modifiksi memungkinkan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan
dalam memenuhi kebutuhan klien dengan baik.
3. Mengidentifikasi Bidang Bantuan
Beberapa
situasi keperawatan mengharuskan perawat untuk mencari bantuan dapat
berupa tambahan tenaga, pengetahuan atau keterampilan keperawatan.
Bantuan bisa datang dari staf perawat lain, penyelia atau pendidik atau
perawat ahli. Membutuhkan bantuan sering terjadi pada semua tipe praktik
keperawatan dan merupakan proses pembelajaran berkelanjutan selama
pengalaman edukasi dan dalam perkembangan profesional.
4. Mengimplementasikan Intervensi Keperawatan
Praktik
keperawatan terdiri atas keterampilan kognitif yang mencakup
pengetahuan keperawatan, keterampilan interpersonal dimana penting untuk
tindakan keperawatan yang efektif. Keterampilan psikomotor (teknis)
mencakup kebutuhan langsung perawatan klien.
5. Mengkonsumsikan Intervensi Keperawatan
Intervensi
keperawatan dituliskan atau dikomunikasikan secara verbal. Ketika di
tuliskan, intervensi keperawatan dipadukan kedalam rencana oasuhan
keperawatan dan catatan medis klien. Rencana perawatan biasanya
mencerminkan tujuan intervensi keperawatan dimana informasinya mencakup
deskripsi singkat tentang pengkajian keperawatan prosedur spesifik dan
respon klien.
Perawat
menjalankan rencana asuhan keperawatan dengan menggunakan beberapa
metode implementasi sebagai contoh; klien dengan diagnosa keperawatan.
Hambatan
mobilitas fisik yang badan gips lengan bilateral, mungkin membutuhkan
bantuan dalam melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari. Klien dengan
koping individual tidak efektif yang badan ketakutan tentang diagnosa
medis mungkin konseling sebagai metode intervensi keperawatan. Klien
dengan kurang pengetahuan membutuhkan penyuluhan kesehatan yang
difokuskan pada area yang dibutuhkan. Klien imobilisasi total atau
disorientasi membutuhkan intervensi keperawatan yang memberikan
perawatan total klien. Metode implementasi lainnya mencakup supervisi
dan evaluasi dari anggota tim perawatan kesehatan lainnya.
H. Evaluasi menurut (Patricia. W. Iyer. 2004)
Evaluasi
merupakan langkah akhir dari proses keperawatan dan berasal dari hasil
yang ditetapkan dalam rencana perawatan. Dimana dalam pendekumentasian
evaluasi ini terdiri dari 5 aspek yaitu mengapa, apa, kapan, dimana dan
bagimana pendokumentasian hasil dilakukan.
Evaluasi
juga memampukan perawat dalam mengukur keterampilan pengkajian untuk
menentukan alasan dimana suatu rencana perawatan telah berhasil atau
tidak. Jenis evaluasi yaitu evaluasi hasil dimana evaluasi dikategorikan
sebagai evaluasi formatif atau sumatif. Dimana evaluasi formatif
terjadi secara periodik selama pemberian perawatan sedangkan evaluasi
sumatif terjadi pada akhir aktifitas, seperti diakhir penerimaan,
pemulangan atau pemindahan ketempat lain atau diakhir kerangka waktu
tertentu, seperti diakhir sesi penyuluhan.
Adapun langkah dan evaluasi keperawatan, yaitu :
1. Mengumpulkan data perkembangan pasien
2. Menafsirkan (menginterprestasikan) perkembangan pasien
3. Membandingkan
dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan
menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
4. Mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku.
Seorang perawat juga harus mampu menafsirkan hasil evaluasi dari masalah keperwatan klien, yaitu :
1. Tujuan Tercapai
Bila klien menunjukkan perubahan prilaku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
2. Tujuan Tercapai Sebagian
Bila
klien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian
dari kriteria pencapaian tujuan yang tetap ditetapkan.
3. Tujuan Tidak Tercapai
Bila klien menunjukkan tidak ada perubahan prilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah baru
